Selasa, 28 Maret 2017

Review Jurnal 04 ( Akuntansi Komparatif Amerika & Asia)

NAMA              : TIARA ERLIYANTI
NPM                : 28213891
KELAS              : 4EB22

IDENTITAS JURNAL

Nama Jurnal

Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen
Volume / Halaman

Vol.2 ,No.3 / 87-104
Nama Penulis

Yulein Rahamis
Judul Jurnal

Analisis Komparasi Kinerja Pasar Modal Di Indonesia, Hongkong, China, Inggris Dan Amerika
Tanggal Jurnal

2014
Tujuan Penelitian

Membandingkan kinerja pasar modal Indonesia dengan pasar modal Hongkong, China, Inggris, dan Amerika
Metode Penelitian

Metode penelitian Komparatif
Variabel Penelitian

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Return Market
Hasil Penelitian

·         Berdasarkan indikator IHSG,  tingkat signifikan sebesar  0.00, lebih kecil dari  tingkat signifikan yang ditentukan yaitu 0.05.
·         Berdasarkan indikator Return Market, tingkat signifikan 0.197, lebih besar dari tingkat signifikan yang ditentukan yaitu 0.05.  
Kesimpulan Penelitian

·         Perbedaan yang signifikan pada kinerja Pasar Modal Indonesia, Pasar Modal China, Pasar Modal Inggris, dan Pasar Modal Amerika dilihat dari indikator IHSG.
·         Tidak ada perbedaan kinerja Pasar Modal  Indonesia, Pasar Modal China, Pasar Modal Inggris, dan Pasar Modal Amerika dilihat dari indikator Return Market.

Review Jurnal 03 ( Akuntansi Komparatif Eropa )

NAMA                   : TIARA ERLIYANTI
NPM                      : 28213891
KELAS                    : 4EB22

IDENTITAS JURNAL

Nama Jurnal
Jurnal Akuntansi Bisnis
Vol/ Halaman
 Vol. 13 No. 25 / 1-24
Nama Penulis
Anggreni Dian Kurniawati
Judul Jurnal
Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Earnings Response Coefficient
Tanggal Jurnal                         
2014
Tujuan Penelitian
Menguji secara empiris mengenai persistensi laba,leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual yaitu karakteristik perusahaan yang mempengaruhi ERC perusahaan Eropa dan Asia yang terdaftar di NYSE dan menganalisis faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan Eropa berbeda dengan perusahaan Asia.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif  yaitu dengan Sampel penelitian adalah perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) periode 2008-2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diunduh melalui situs resmi New York Stock Exchange (NYSE) yaitu www.nyse.com dan situs resmi NASDAQ yaitu www.nasdaq.com


Variabel Penelitian
Persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual.
Hasil Penelitian
Empat faktor yang terbukti mempengaruhi secara positif ERC di perusahaan Asia yaitu persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual, namun tidak demikian halnya dengan perusahaan Eropa. Perbedaan karakteristik yang mendasar baik dari segi perusahaan maupun negara dari perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di NYSE ini juga berperan sebagai penentu perbedaan faktor yang mempengaruhi kualitas laba dari perusahaan Asia maupun Eropa ini. Dilihat dari karakteristik perusahaannya, perusahaan Eropa cenderung lebih konservatif dibandingkan dengan perusahaan Asia, hal ini tercermin dari pengungkapan informasi akuntansi mereka. Pengungkapan informasi ini terkait dengan standar laporan keuangan Eropa yang secara wajib telah menggunakan IFRS, sedangkan Asia hanya baru beberapa negara saja yang menggunakan IFRS. Sedangkan dilihat dari karakteristik negaranya, Eropa dan Asia memiliki banyak perbedaan baik dari sistem hukum, budaya, sosial, ekonomi, dan sumber daya yang dimiliki.

Kesimpulan
Persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE, namun tidak demikian dengan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Persistensi laba, leverage, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE namun ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Analisis tambahan juga menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ERC perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE dan perbedaan tersebut disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda di antara kedua negara tersebut

Review Jurnal 02 ( Akuntansi Internasional )

NAMA              : TIARA ERLIYANTI
NPM                : 28213891
KELAS              : 4EB22

IDENTITAS JURNAL


Judul
PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DI INDONESIA


Jurnal
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi

Pemilik
Ferry Danu prasetya

Vol
1

No
4

Tahun
2012

Bulan
Juli

PENDAHULUAN

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.                  Memberikan kontribusi pemikiran kepada para pemakai dalam memahami dan mengapresiasi praktek sekarang, masa depan dan struktur institusional bidang sains akuntansi.
2.                  Memahami sejarah perkembangan Standar Akuntansi Keuangan dari masa penjajahan sampai sekarang ini.

Memberikan kontribusi pemikiran kepada para pemakai agar dapat memahami SAK di Indonesia dalam adaptasi Standar Akuntansi Internasional.
PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan Akuntansi Di Indonesia

          Nluarlah yang membawa akuntansi itu masuk ke Indonesia. Untuk memberikan gambaran bagaimana perkembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, maka dapat dilihat :

Zaman colonial  (1602 - 1799)                             :               Pencatatan Sederhana
Zaman Penjajajhan Belanda (1800 - 1942)      :               Pencatatan kredit dan debit
Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945)        :               Pencatatan debit dan kredit tanpa perubahan
Zaman Kemerdekaan (1945 – sekarang )         :               Harmonisasi ke standar akuntansi internasional

Sejarah Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia

          Terdapat tiga tonggak sejarah yang pernah dicapai sebelumnya dalam pengembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia:
a.        Menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI berhasil melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam suatu buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).” pada tahun 1973.
b.        Tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkondifikasikannya dalam buku ”Prinsip Akuntansi Indonesia 1984” dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia usaha.
c.        Tahun1994, setelah berlangsung selama 10 tahun IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dalam buku ”Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994.” IAI mengadopsi pernyataan International Accounting Standard Committee (IASC) sebagai dasar acuan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia

Tiga Pilar Standar Akuntansi Indonesia
a.        Standar Akuntansi Keuangan
b.        Standar Akuntansi Entitas tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP)
c.        Standar Akuntansi Syariah

Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia Menuju Standar Akuntansi Internasional

Perbandingan Rerangka Konseptual FASB dan Rerangka Konseptual IASC
Rerangka Konseptual FASB
          Kerangka ini merupakan dasar teoritis bagi FASB dalam mengembangkan Standard Akuntansi Keuangan di Amerika Serikat.Standar-standar tersebut berkenaan dengan pengukuran aktivitas ekonomi, penentuan waktu kapan pengukuran dan pencatatan harus dilakukan, ketentuan pengungkapan mengenai aktivitas tersebut, penyiapan dan penyajian ringkasan aktivitas ekonomi tersebut dalam bentuk laporan keuangan.
Rerangka Konseptual IASC
          Sampai saat ini IASC beranggotakan sekitar 150 organisasi atau badan penyusun standard akuntansi dari 113 negara (media akuntansi, 2000), dan telah berhasil merumuskan model teoritis yang juga mengadopsi meta teori dengan menempatkan tujuan sebagai top level. Model ini disebut Framework for the Preparation andPresentation of Financial Statements (FPPFS) (naskah asli terdapat di IAI, SAK, Oktober 2004).

Tujuan Mengganti Standar Akuntansi Keuangan

          Harmonisasi merupakan proses untuk meningkatkan kompatibilitas (kesesuaian) praktik akuntansi dengan menentukan batasan–batasan seberapa besar praktik–praktik tersebut dapat beragam (Choi, et al. 1999). Beberapa pihak yang diuntungkan adalah perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, oraganisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions).  
          Dampak dari harmonisasi SAK salah satunya adalah globalisasi profesi akuntansi. Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, profesi akuntan dituntut untuk lebih berkembang yang mendorong profesi akuntan untuk semakin mengembangkan wawasan, keterampilan, pendidikan, dan etika menjadi tanggung jawab penuh dari profesi akuntan.
KESIMPULAN

Adanya era globalisasi dan semakin aktifnya pasar modal di Indonesia menyebabkan Prinsip Akuntansi Indonesia yang berlaku umum tidak dapat lagi menampung dan menjawab permasalahan yang timbul dalam praktik.Ikatan Akuntan Indonesia memutuskan untuk mengadopsi penuh International Accounting Standards sebagai dasar acuan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. Globalisasi yang tampak antara lain dari kegiatan perdagangan antar negara dan munculnya perusahaan–perusahaan multinasional. Salah satu usaha harmonisasi standar akuntansi, yaitu dengan membuat perbedaaan–perbedaan antar standar akuntansi di berbagai negara menjadi semakin kecil, sehingga standar akuntansi antar negara tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

PENDAPAT TENTANG JURNAL

Pendapat saya, jurnal ini sudah cukup baik. Perkembangan standar akuntansi di jelaskan dengan sangat baik dan dari jurnal ini, kita tau bahwa Indonesia ingin memajukan Standar Akuntansi Keuangan diIndonesia dengan mengharmonisasai Standar akuntansi keuangan Indonesia dengan Standar akuntansi keuangan Internasional.


Review Jurnal 01 ( Akuntansi Internasional )

NAMA              : TIARA ERLIYANTI
NPM                : 28213891
KELAS              : 4EB22

IDENTITAS JURNAL
                             

Judul 
STRUKTUR META TEORI AKUNTANSI KEUANGAN (SEBUAH TELAAH DAN PERBANDINGAN ANTARA FASB DAN IASC)
Penulis 
I Made Narsa

Jurnal   
Jurnal Akuntansi Keuangan

Volume  
2

Tahun  
2011

Nomor 
1

Halaman 
1-7

ABSTRAK                                                                                         

Penelitian ini bertujuan untuk membahas struktur meta teori yang dipergunakan oleh FASB dan IASC dalam mengembangkan rerangka konseptual, menelaah perbedaan-perbedaan mendasar, menganalisis hambatan-hambatan yang dialami serta mengidentifikasi upaya-upaya yang harus dilakukan agar IFRS diterapkan oleh negara-negara anggota.
PENDAHULUAN

Pada lingkup global, terdapat dua badan penyusun standar yang berkaitan dengan praktik akuntansi secara internasional. Badan-badan itu adalah The International Federation of Accountant (IFAC), dan The International Accounting Standards Committee (IASC). IASC lebih berkonsentrasi untuk membuat International Accounting Standards (IASs). Sedangkan IFAC lebih memfokuskan pada upaya pengembangan International Standard Audits (ISAs), kode etik, kurikulum pendidikan, standar akuntansi sektor swasta, dan kaidah-kaidah bagi akuntan dalam berbisnis atau mereka yang terlibat dalam teknologi. Sangat diharapkan ada sebuah standar yang dapat diterima oleh semua Negara di dunia. Dengan adanya standar yang diterima secara internasional, diharapkan laporan keuangan memiliki daya keterbandingan yang lebih tinggi antar negara.

PEMBAHASAN

Kerangka Konseptual FASB
Model kerangka konseptual FASB ini mencakup empat komponen dasar, yaitu :
a.        Tujuan pelaporan keuangan yang dituangkan pada SFAC no 1 dan SFAC no 4
b.        Kriteria kualitas informasi yang dituangkan pada SFAC no 2
c.        Elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada SFCA no 6 (pengganti SFAC no 3)
d.        Pengukuran dan Pengakuan yang dituangkan pada SFAC no. 5

Kerangka Konseptual IASC
Kerangka dasar konseptual IASC memuat lima unsur utama, yaitu
a.        Tujuan laporan keuangan yang dituangkan dalam paragraf 12-21
b.        Asumsi dasar dituangkan pada paragraf 22-23, dan konsep modal dan pemeliharaan modal yang dituangkan pada paragraf 102-110
c.        Karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan yang dituangkan pada paragraf 24-46
d.        Elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada paragraf 47-81
e.        Definisi, pengakuan dituangkan pada paragraf 82-98, dan pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan dituangkan pada paragraf 99-101.

Kerangka dasar ini dimaksudkan sebagai acuan bagi komite penyusun standar akuntansi keuangan dalam pengembangan standar akuntansi keuangan dimasa depan dan dalam peninjaun kembali terhadap standar akuntansi keuangan yang berlaku.

Hambatan dan upaya dalam penerapan IFRS
Pembuatan standar akuntansi di IASC tidaklah melibatkan seluruh anggota yang jumlahnya sangat banyak, melainkan oleh beberapa negara yang disebut dengan nama G4+1 yang terdiri dari perwakilan badan-badan standar nasional dari Negara Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat. Alasan dibentuknya G4+1 ini adalah anggota IASC terlalu banyak, terdiri dari anggota tetap dan tidak tetap, serta sangat beragam.

          Meskipun sebagian besar anggota IASC telah menyetujui IFRS, tetapi tidak semua anggota IASC menerapkan dinegaranya masing-masing. Berbeda dengan anggota yang tergabung dalam G4+1. Mereka berkumpul secara intensif dan bekerja penuh waktu. Dalam setiap proyek pengembangan yang dikerjakan, mereka mengembangkannya kedalam lingkup Negara mereka masing-masing. Oleh karena anggota G4+1 ini adalah negara-negara maju yang memiliki pasar keuangan yang canggih, maka kompromi-kompromi sangat sedikit terjadi.

          Negara-negara maju akan mendominasi pengembangan pasar keuangan. Kebutuhan informasi para investor tampaknya lebih terkait dengan Amerika Serikat, Eropa Daratan, Inggris, dan Australia. Jika standar akuntansi internasional dimaksudkan berlaku untuk semua anggota IASC, yang memiliki banyak perbedaan, maka hal ini merupakan hambatan yang barangkali sulit dipecahkan.
          Karakteristik dan tingkatan yang berbeda antar negara merupakan hambatan mendasar yang dihadapi dalam proses harmonisasi standar akuntansi keuangan. Hambatan lain yang muncul adalah adanya perbedaan kebutuhan dan keinginan antara Negara maju dengan yang belum maju dan antara Negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi dan Negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah bahkan sangat rendah.

          Upaya yang bisa ditempuh adalah pertama, mengajukan pengakuan melalui International Organization of Securities Commissions, supaya perusahaan (Negara) yang akan melakukan crossborder listing menggunakan IFRS dalam pelaporan keuangan mereka. Tindakan ini selanjutnya diikuti dengan pengakuan oleh komisi-komisi efek atau peraturan yang ada. Jika hal ini terjadi, maka akan mendorong perusahaan-perusahaan multinasional untuk listing di bursa efek mancanegara.
Kedua, IASC harus membentuk badan penyusun standar yang terpisah dari badan-badan akuntansi. Untuk itu, IASC harus melakukan restrukturisasi. Saat ini IASC didominasi oleh badan-badan profesi akuntansi sebanag penyusun standar. Restrukturisasi ini diharapkan dapat mendorong kemandirian baik dari segi dana maupun operasional.

KESIMPULAN

Penerapan IFRS ternyata mengalami hambatan yang sangat serius, karena banyak sekali terdapat perbedaan antar negara-negara anggota, baik dalam bidang social, budaya, hukum, ekonomi, politik, pendidikan, sistem pemerintahan, sistem pajak, dan lain sebagainya.
          Karakteristik dan tingkatan yang berbeda antar negara merupakan hambatan mendasar yang dihadapi dalam proses harmonisasi standar akuntansi keuangan. Hambatan lain yang muncul adalah adanya perbedaan kebutuhan dan keinginan antara Negara maju dengan yang belum maju dan antara Negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi dan Negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah bahkan sangat rendah. Yang harus dilakukan oleh IASC sebagai badan penyusun standar akuntansi interasional adalah membuat para anggota merasa butuh menerapkan IFRS

PENDAPAT TENTANG JURNAL

Dari keseluruhan isi jurnal, sudah cukup lengkap. Namun yang cukup kurang dijelaskan adalah apakah penerapan IFRS ini sudah cukup berhasil atau belum dalam penerapannya di Negara – Negara IFAC ataupun ISAC.


Template by:

Free Blog Templates